Thursday, April 30, 2026

Tolerable Error (TE) Part 2

 

Untuk memahami hubungan antara Planning Materiality (PM) dan Tolerable Error (TE), kita harus melihatnya sebagai sebuah hierarki. Planning Materiality adalah "payung besar" untuk seluruh laporan keuangan, sedangkan TE adalah batasan yang diterapkan pada "kotak-kotak kecil" (akun atau saldo) di bawahnya.


Berikut adalah contoh konkret untuk menggambarkan alur hubungan tersebut:

Skenario: Audit PT Cahaya Abadi

Misalkan Anda sedang merencanakan audit untuk PT Cahaya Abadi. Berdasarkan total aset dan pendapatan, Anda menetapkan angka-angka berikut dalam tahap perencanaan:

  1. Planning Materiality (Overall): Rp1.000.000.000 (Ini adalah batas maksimal kesalahan yang jika digabungkan, akan membuat investor mengubah keputusan mereka).

  2. Performance Materiality (PM): Rp700.000.000 (Anda mengambil 70% dari Planning Materiality sebagai margin keamanan untuk menampung risiko akumulasi salah saji).


Contoh Hubungan dalam Sampling Akun Spesifik

Mari kita terapkan pada akun Aset Tetap (Peralatan) yang memiliki nilai total buku Rp5.000.000.000.


1. Penetapan Tolerable Error (TE)

Berdasarkan risiko akun tersebut, Anda menetapkan TE sebesar Rp500.000.000 (biasanya nilainya sama atau lebih kecil dari Performance Materiality).


2. Pelaksanaan Sampling

Anda melakukan sampling terhadap 20 transaksi pembelian peralatan tahun ini. Dari sampel tersebut, Anda menemukan salah saji sebesar Rp50.000.000 karena kesalahan pencatatan PPN yang tidak seharusnya dikapitalisasi.


3. Proyeksi ke Populasi

Berdasarkan hasil sampel, Anda melakukan proyeksi (extrapolation). Hasilnya menunjukkan estimasi total kesalahan di seluruh akun Peralatan adalah Rp450.000.000.


Analisis Hubungan Hierarkis

Berikut adalah bagaimana temuan tersebut berinteraksi dengan tingkat materiality yang sudah direncanakan:


Tingkat Materiality

Nilai

Analisis Temuan (Estimasi Rp450 Juta)

Tolerable Error (TE)

Rp500.000.000

LULUS. Estimasi kesalahan (450jt) masih di bawah batas toleransi akun ini (500jt). Secara individual, akun ini tidak dianggap salah saji material.

Performance Materiality

Rp700.000.000

MONITOR. Angka 450jt ini akan dicatat dalam daftar "Uncorrected Misstatements". Jika ada akun lain (misal Piutang) yang juga punya kesalahan Rp300jt, maka totalnya menjadi 750jt.

Planning Materiality

Rp1.000.000.000

WARNING. Jika akumulasi semua kesalahan dari berbagai akun melebihi 1 Miliar, maka opini audit Anda bisa terpengaruh kecuali klien melakukan koreksi.

Mengapa TE Dibuat Lebih Kecil dari Planning Materiality?

Hubungannya didasarkan pada Teori Agregasi. Jika Anda menetapkan TE untuk setiap akun sama besarnya dengan Planning Materiality (Rp1 Miliar), maka:

  • Akun Kas salah Rp800 Juta (Dianggap tidak material).

  • Akun Piutang salah Rp800 Juta (Dianggap tidak material).

  • Akun Persediaan salah Rp800 Juta (Dianggap tidak material).

Namun, jika digabungkan, total kesalahan laporan keuangan menjadi Rp2,4 Miliar. Ini jauh melampaui Planning Materiality Anda yang hanya Rp1 Miliar.

Kesimpulan: TE/Performance Materiality berfungsi untuk menjaga agar "serpihan-serpihan" kesalahan di setiap akun, ketika disatukan, tidak meledak dan meruntuhkan batasan Planning Materiality yang telah ditetapkan di awal.


No comments:

Post a Comment