Monday, February 16, 2026

Perbedaan Capital Expenditure dengan Working Capital Funds


Perbedaan antara Capital Expenditure (CapEx) dan Working Capital seringkali membingungkan karena keduanya melibatkan pengeluaran uang.

Namun, kuncinya terletak pada tujuan dan jangka waktu manfaatnya. Singkatnya: CapEx adalah investasi untuk masa depan, sedangkan Working Capital adalah biaya untuk saat ini.


Perbandingan Utama


Karakteristik

Capital Expenditure (CapEx)

Working Capital Funds

Definisi

Dana yang digunakan untuk membeli, memperbaiki, atau merawat aset fisik jangka panjang.

Dana yang digunakan untuk membiayai operasional harian perusahaan.

Jangka Waktu

Jangka Panjang (> 1 tahun).

Jangka Pendek (< 1 tahun).

Contoh Aset

Bangunan, mesin, kendaraan, perangkat lunak (IT).

Stok barang, uang kas, piutang pelanggan.

Tujuan

Meningkatkan kapasitas atau efisiensi produksi di masa depan.

Menjaga agar bisnis tetap "bernafas" dan beroperasi setiap hari.

Pencatatan

Dikapitalisasi dalam Neraca dan disusutkan (Depresiasi) selama masa pakai.

Dicatat sebagai aset lancar dan kewajiban lancar di Neraca.


1. Capital Expenditure (CapEx)

CapEx adalah pengeluaran besar yang memberikan manfaat selama bertahun-tahun. Karena harganya mahal dan manfaatnya lama, biaya ini tidak langsung dikurangi dari pendapatan dalam satu tahun pajak, melainkan melalui proses penyusutan.

  • Analogi: Membeli sebuah truk baru untuk jasa pengiriman. Truk tersebut akan berguna selama 5-10 tahun.

  • Karakteristik: Bersifat strategis dan biasanya membutuhkan persetujuan manajemen tingkat atas karena risikonya besar.


2. Working Capital Funds

Ini adalah dana cair yang berputar terus-menerus. Modal kerja bukan tentang memiliki gedung, tapi tentang memiliki cukup uang untuk membeli bahan baku yang akan diubah menjadi produk, dijual, dan kembali menjadi uang tunai.

  • Analogi: Membeli bensin untuk truk, membayar gaji sopir, dan membeli suku cadang rutin.

  • Karakteristik: Sangat dinamis dan berfluktuasi tergantung pada siklus penjualan perusahaan.


Hubungan Keduanya

Meskipun berbeda, keduanya saling berkaitan. Jika Anda melakukan CapEx dengan membangun pabrik baru, maka secara otomatis Anda akan membutuhkan Working Capital yang lebih besar untuk membeli lebih banyak bahan baku dan membayar lebih banyak karyawan untuk mengoperasikan pabrik tersebut.


Working Capital Funds


Working Capital atau Modal Kerja adalah selisih antara aset lancar perusahaan (seperti uang tunai dan inventaris) dengan kewajiban lancarnya (utang jangka pendek).

Dalam konteks Working Capital Funds, yaitu dana yang tersedia untuk mendanai operasional sehari-hari agar bisnis tetap berjalan tanpa hambatan. Bayangkan ini sebagai "bahan bakar" yang menjaga mesin perusahaan tetap menyala sebelum hasil penjualan diterima.


Komponen Utama

Modal kerja terdiri dari pergerakan empat elemen utama dalam siklus bisnis:

  1. Kas (Cash): 

Uang tunai di tangan atau di bank untuk membayar biaya mendadak.

  1. Piutang Usaha (Accounts Receivable): 

Uang yang masih dipinjam oleh pelanggan tetapi akan segera dibayar.

  1. Persediaan (Inventory): 

Stok bahan baku atau barang jadi yang siap dijual.

  1. Utang Usaha (Accounts Payable): 

Kewajiban jangka pendek kepada pemasok yang harus segera dilunasi.


Cara Menghitungnya

Untuk mengetahui kesehatan finansial jangka pendek perusahaan, digunakan rumus:

Net Working Capital = Current Assets - Current Liabilities

  • Aset Lancar (Current Assets): 

Aset yang bisa diubah menjadi kas dalam waktu kurang dari satu tahun.

  • Kewajiban Lancar (Current Liabilities): 

Utang yang harus dilunasi dalam waktu satu tahun.


Mengapa Dana Ini Sangat Penting?

Memiliki dana modal kerja yang cukup (positif) sangat krusial karena beberapa alasan:

  • Kelancaran Operasional: Memastikan Anda bisa membayar gaji karyawan dan tagihan listrik tepat waktu.

  • Kepercayaan Pemasok: Perusahaan yang selalu membayar utang tepat waktu akan mendapatkan syarat kredit yang lebih baik.

  • Kesiapan Menghadapi Krisis: Memberikan ruang bernapas jika ada penurunan penjualan yang tidak terduga.

  • Kemampuan Ekspansi: Memungkinkan perusahaan mengambil pesanan besar tanpa takut kehabisan dana di tengah jalan.


Risiko Modal Kerja Negatif

Jika kewajiban lancar lebih besar dari aset lancar, perusahaan mungkin mengalami kesulitan likuiditas. Meskipun perusahaan terlihat menguntungkan di atas kertas, mereka bisa bangkrut jika tidak memiliki "dana tunai" yang cukup untuk membayar operasional harian.