Capital gain adalah keuntungan yang kita peroleh saat menjual suatu aset investasi dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga saat kita membelinya.
Berikut adalah rincian lengkap untuk membantu kita memahaminya:
1. Rumus Dasar Capital Gain
Untuk menghitungnya, kita cukup menggunakan selisih harga jual dan beli:
Capital Gain = (Harga Jual - Harga Beli) x Jumlah Unit
Catatan: Jika harga jual justru lebih rendah dari harga beli, selisih tersebut dinamakan Capital Loss (kerugian modal).
2. Jenis-Jenis Capital Gain
Berdasarkan status penjualannya, capital gain dibagi menjadi dua:
Realized Gain (Sudah Terealisasi): Keuntungan yang didapat saat aset sudah dijual dan uangnya sudah kita terima.
Unrealized Gain (Belum Terealisasi): Keuntungan yang masih berupa angka di atas kertas karena nilai aset naik, tetapi kita belum menjual aset tersebut.
Berdasarkan jangka waktunya:
Jangka Pendek: Keuntungan dari aset yang dimiliki kurang dari satu tahun (contoh: trading saham harian).
Jangka Panjang: Keuntungan dari aset yang disimpan lebih dari satu tahun (contoh: investasi emas atau properti).
3. Perbedaan Capital Gain vs Dividen
Banyak investor pemula sering tertukar antara keduanya, terutama dalam instrumen saham:
4. Contoh Sederhana
Misalkan si A membeli 100 lembar saham perusahaan A seharga Rp1.000 per lembar. Total modal si A adalah Rp100.000.
Satu tahun kemudian, si A menjual seluruh saham tersebut saat harganya naik menjadi Rp1.500 per lembar.
Total Penjualan: Rp150.000
Total Modal: Rp100.000
Capital Gain si A: Rp50.000
HUBUNGAN CAPITAL GAIN DENGAN BID DAN ASK
Dalam dunia investasi, Bid dan Ask adalah "pintu masuk dan keluar" yang menentukan seberapa besar Capital Gain bersih yang sebenarnya kita dapatkan.
Berikut adalah penjelasan mengenai hubungan keduanya:
1. Hubungan Definisi
Saat kita ingin menghitung Capital Gain, kita harus menggunakan harga di mana transaksi benar-benar terjadi, bukan sekadar harga terakhir (Last Price) yang muncul di layar.
Beli (Entry): Untuk mendapatkan aset segera, kita membeli di harga Ask (harga terendah yang diminta penjual).
Jual (Exit): Untuk menjual aset segera, kita menjual di harga Bid (harga tertinggi yang ditawarkan pembeli).
Rumus Realistis:
Capital Gain = Harga Bid (Saat Jual) - Harga Ask (Saat Beli)
2. Peran Bid-Ask Spread sebagai "Biaya"
Selisih antara Ask dan Bid disebut Spread. Spread ini bertindak sebagai hambatan awal untuk mendapatkan Capital Gain.
Hambatan Keuntungan: Begitu kita membeli saham di harga Ask, kita langsung berada dalam posisi "rugi" secara angka (unrealized loss) sebesar selisih Spread tersebut. Kita baru akan mendapatkan Capital Gain jika harga Bid naik melampaui harga Ask saat kita beli dulu.
Contoh:
Harga Saham X: Bid Rp1.000 | Ask Rp1.020 (Spread = Rp20).
Si B beli di harga Ask (Rp1.020).
Jika semenit kemudian Si B ingin menjualnya kembali, Si B hanya bisa menjual di harga Bid (Rp1.000).
Si B mengalami Capital Loss Rp20 meski harga pasar belum bergerak.
3. Likuiditas dan Potensi Capital Gain
Hubungan ini sangat krusial dalam memilih aset:
Spread Tipis (Saham Likuid): Memudahkan kita meraih Capital Gain karena harga hanya perlu naik sedikit untuk menutupi selisih harga beli.
Spread Lebar (Saham Tidak Likuid): Menyulitkan Capital Gain. Meskipun harga "terakhir" naik, jika tidak ada pembeli di harga tinggi (Bid rendah), kita akan kesulitan merealisasikan keuntungan kita.
No comments:
Post a Comment