Prinsip-Prinsip Dasar Akuntansi Utama:
Prinsip Entitas Ekonomi (Economic Entity): Memisahkan secara tegas antara keuangan pribadi pemilik dan keuangan entitas bisnis. Transaksi perusahaan tidak boleh dicampuradukkan dengan aset atau pengeluaran pribadi agar kinerja keuangan dapat dievaluasi secara objektif.
Prinsip Kelangsungan Usaha (Going Concern): Mengasumsikan bahwa entitas bisnis memiliki umur panjang dan akan terus beroperasi di masa mendatang, tanpa ada niat atau paksaan untuk melikuidasi atau menghentikan usahanya secara signifikan.
Prinsip Periode Waktu (Time Period): Membagi aktivitas operasional perusahaan ke dalam interval waktu pelaporan yang berkala (seperti bulanan, triwulanan, atau tahunan) untuk menyajikan informasi kinerja secara tepat waktu.
Prinsip Biaya Historis (Historical Cost): Mengharuskan aset, liabilitas, dan ekuitas dicatat berdasarkan nilai perolehan awal atau kas aktual yang dikeluarkan saat transaksi terjadi, bukan berdasarkan nilai pasar fluktuatif.
Prinsip Pengukuran dan Pelaporan Keuangan
Prinsip Pengakuan Pendapatan (Revenue Recognition): Pendapatan diakui saat hak atas barang atau jasa telah diserahkan kepada pelanggan (ketika kendali berpindah) dan nilai realisasinya dapat diukur secara andal, terlepas dari waktu penerimaan kas.
Prinsip Penandingan (Matching Principle): Beban harus diakui pada periode akuntansi yang sama dengan pendapatan yang terkait langsung dengan beban tersebut, sehingga laba bersih periodik dapat dihitung secara akurat.
Prinsip Pengungkapan Penuh (Full Disclosure): Laporan keuangan wajib menyajikan seluruh informasi kualitatif dan kuantitatif yang material dan relevan agar pembaca tidak disesatkan, biasanya dijabarkan melalui Catatan atas Laporan Keuangan (CALK).
Prinsip Konsistensi & Materialitas: Konsistensi menuntut penerapan metode akuntansi yang seragam dari tahun ke tahun, sedangkan materialitas memfokuskan pencatatan pada pos-pos yang cukup signifikan untuk mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna.
No comments:
Post a Comment